Selasa, 23 Apr 2024

Jelang Lebaran, KPPU Medan Awasi Kenaikan Harga

waktu baca 4 menit
Rabu, 3 Apr 2024 02:15 0 9 redaksi2

MEDAN  -Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) Kanwil I Medan menghimbau agar pelaku usaha tidak melakukan praktek perdagangan curang sehingga
menyebabkan harga semakin tinggi.

“Kami mengimbau pedagang jangan melakukan praktek curang seperti penimbunan maupun penahanan pasokan,” ujar Kepala KPPU Kanwil I Medan, Ridho Pamungkas usai memonitoring harga di Pasar Petisah Medan bersama Tim Satgas Pangan Sumut, Selasa (2/4/2024).

Menjelang lebaran ini, katanya kondisi beberapa komoditi mengalami kenaikan harga. Untuk itu pihaknya akan terus mengawasi kenaikan harga kebutuhan pokok tersebut.

Disebutkannya, praktek perdagangan curang  dengan melakukan penimbunan dan penahanan pasokan atau tindakan lain menyebabkan persaingan usaha tidak sehat dan merugikan konsumen.

Setelah melakukan monitoring harga, KPPU Kanwil I Medan akan mengawasi beberapa kenaikan harga komoditas. Di antaranya bawang merah, bawang putih, ayam potong, beras dan minyak goreng.

“Berdasarkan pantauan ada beberapa komoditas yang harus diawasi terutama bawang merah,” ujar Ridho

Dijelaskannya, bawang merah dari sisi hulunya. Informasi di lapangan permasalahan kendala banjir di Jawa sehingga transportasi ke Sumut jadi agak kurang.

Menurutnya, ke depan itu yang harus diantisipasi karena gangguan bisa sampai menjelang Lebaran/Idul Fitri 1445 Hijriah/2024.

Sementara untuk bawang putih, terdapat tren kenaikan harga meskipun harga di Sumut relatif lebih rendah dibanding di Jawa di atas Rp40.000 sedangkan di Medan Rp36.000.

“Artinya sedikit di atas HET. Namun, karena ini komoditi import, maka simpul yang harus diwaspadai adalah di level importirnya. Apakah mereka sudah merealisasikan izin importnya atau ada faktor kesengajaan untuk menahan pasokan,” ujar Ridho.

Ke depan ini harus diwaspadai. Karena, kata Ridho berdasarkan steatment Menteri Perdagangan sudah 300 ribu kilo yang dikeluarkan izin impornya tapi belum terealisasi semua.

Menurutnya itu menjadi pertanyaan. Sebab ketika sudah dikeluarkan izin sebanyak itu tapi harga masih melonjak tinggi di Jawa.

“Apakah ada permainan harga atau tidak. Meskipun harga internasional memang tinggi tergantung rate dolarnya. Jadi, ini beberapa komoditi yang kita waspadai,” katanya.

Pada pantauan untuk minyak goreng curah Rp17.000 dan Minyak Kita (minyak goreng kemasan) Rp16.000 padahal HET-nya Rp14.000.

Disebutkannya, berdasarkan informasi pedagang pada Maret itu ada kelangkaan Minyak Kita.

Kondisinya terjadi menurut Ridho komoditi ini tergantung berapa nilai ekspornya. Karena itu jadi alokasi Domestic Market Obligation atau DMO-nya.

“Kalau ekpor berkurang pasti pasokan berkurang. Jadi pertanyaan juga harga tanpa DMO itu sudah 16-17 apalagi untuk premium,” paparnya.

Sehingga minyak goreng ini yang ditinjau kembali adalah harga pokok produksinya yang sudah tinggi atau bisa ditekan sesuai HET.

Kalau tidak, menurut Ridho ini
harus dievaluasi lagi. Karena temuan di pasar selalu tinggi HET-nya.

“Jika dari minyak goreng lebih kepada harga pokok yang sudah cukup tinggi. Lalu Minyak Kita yang menjadi stabilisasi harga juga sudah berkurang produknya. Hal ini karena masalah berkurangnya jumlah pasokan,” sebutnya.

Ridho juga menyebutkan, yang masih di atas harga eceran tertinggi atau HET adalah harga beras.

Padahal sudah ada beras dari Bulog yang bisa menstabilkan harga.  Ditambah lagi menjelang panen raya maka dipastikan beras-beras lokal akan masuk ke pasar.

Ridho menyebutman yang  harus diwaspadai adalah kebijakan Bulog dalam mendistribusikan beras ke masyarakat.

“Inilah yang harus dijaga. Jangan sampai kita masih jor-joran beras Bulog padahal harga panen sudah masuk. Sehingga harga jatuh di produsen kemudian ke depannya beras sulit lagi. Jadi, stabilisasi harga ini yang harus kita jaga,” ungkapnya.

Dalam kondisi panen raya dan pasokan melimpah, katanya akan lebih baik Bulog mengurangi distribusi beras SPHP dan fokus pada penyerapan gabah petani.

“Hal ini untuk menjaga agar harga beli di tingkat petani nantinya tidak merosot tajam” tambah Ridho.

Di sisi lain, terkait pergerakan harga ayam yang memang arahnya naik di harga Rp34.000 ribu meski di HET nya Rp35.000 dan cabai merah Rp42.000 – Rp45.000 per kg. Ridho menilai kenaikan ini masih relatif normal.

“Meski harga bergerak naik ini wajar menjelang Lebaran. Karena ada kenaikan permintaan terutama di masyarakat,” pungkasnya. .(swisma)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *