Selasa, 23 Apr 2024

GemaSaba Sumut Ajak Kaum Muda Tolak Hoax dan Politik Identitas Jelang Pemilu

waktu baca 2 menit
Kamis, 12 Okt 2023 22:18 0 20 redaksi2

MEDAN – GemaSaba Sumut mengajak masyarakat, khususnya kaum milenial, mencegah politik identitas dan menjaga kamtibmas bersama.

Ajakan itu disampaikan dalam kegiatan seminar dan diskusi bertema “Menjaga Kamtibmas, Menolak Hoax dan Politik Identitas Untuk Mensukseskan Pemilu 2024”, di Kafe Orchid Jln. Pelajar Timur No 171, Kota Medan, Rabu (10/9/2023).

Dr Iwan MHI, akedemisi Sumut yang menjadi narasumber daam kegiatan itu mengatakan, pada tahun politik 2024 sebahagian besar akan diisi kaum anak muda sebagai pemilih nantinya.

Dengan usia muda yang tingkat ketidakstabilan emosional dan dengan pengetahuan yang sangat dangkal, kaum milineal ditakutkan akan terjebak pada politik identitas dan mudah terpengaruh oleh aktifitas negatif khususnya bermedia sosial.

“Kita tidak mengatakan politik identitas itu selamanya tidak baik, dan tentunya juga ada hal hal positif. Apabila dalam suatu bentuk dilakukan suatu upaya perlawan pada pemerintah, maka hal itu merupakan suatu yang tidak dibenarkan,” kata Iwan.

Oleh karena itu lanjut Iwan, dalam kegiatan ini, kita mengajak anak muda dan mahasiswa untuk bisa memahami kondisi politik saat ini agar untuk tidak terjebak pada politik identitas.

Sementara, Ketua DPW GemaSaba Sumut Muhammad Aldi Pramana SM, menerangkan bahwa, menjelang Pilpres 2024, anak muda sebagai agen of change (agen perubahan), harus bertabayun dahulu.

“Tentunya, harapan kita ke depan, di tahun 2024 ini para pemuda memiliki pemikiran pemikiran yang positif dan terbaik,” ujar Muhammad Aldi.

Pada momen yang sama, Komisioner Bawaslu Sumut Payung Harahap SE MM, yang turut hadir menjelaskan, politik identitas memicu terjadinya konflik yang terkesan melebihkan kelompok dan golongan yang menimbulkan permasalahan.

Menurutnya, agar menghindari terjadinya konflik dan timbulnya provokasi, kaum pemuda harus melakukan kroscek, cek dan ricek informasi untuk menghindari terjadinya hoax.

“Bukan hanya dalam ajaran agama. Namun juga dalam konteks kebersamaan, kesatuan dan keutuhan berpotensi runtuh, apabila hoax menjadi informasi yang merajalela di tengah-tengah masyarakat,” ujar Payung. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *