Sidak ke Pasar Tradisional, KPPU Temukan Migor Langka, Harga Beras Relatif Tinggi

waktu baca 3 menit
Senin, 30 Jan 2023 18:44 0 26 redaksi2

MEDAN-Komisi Pengawas Persaingan Usaha ( KPPU) melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Petisah Medan, Senin (30/1/2023).

Dalam sidak tersebut, tim KPPU
yang dipimpin Ridho Pamungkas selaku Kepala Kantor Wilayah menggandeng tim TPID Pemprov Sumut terdiri dari Biro Perekonomian, Disperindag ESDM, Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura serta Perum Bulog Kanwil Sumut dan  Bank Indonesia Sumut.

Ridho Pamungkas menyebutkan,
sidak dilakukan karena sejumlah harga di beberapa kota besar ada mengalami kenaikan seperti beras, telur dan cabai, serta minyak goreng ( migor).

“Sidak ini  untuk melakukan pengawasan dan pengecekan harga sejumlah komoditas di pasaran secara langsung kepada para pedagang, khususnya  beras dan minyak goreng,” sebut Ridho.

Sidak ini juga dilakukan untuk mengantisipasi sedini mungkin kesiapan pasokan di Sumut menjelang ramadhan 2023.

Dari hasil pengecekan harga diketahui minyak goreng curah kemasan merk Minyak Kita saat ini mengalami kelangkaan.

Dari pantuannya harga beras stabil di harga yang relatif tinggi. Demikian juga dengan komoditi lain seperti cabe, telur, daging ayam dan daging sapi terpantau stabil.

Menurut Ridho, kelangkaan pasokan minyak goreng curah Minyak Kita turut mengerek harga minyak goreng curah yang dijual di atas harga HET, yakni Rp16.000/Kg.

Salah seorang pedagang mengaku sudah satu bulan ini tidak menjual Minyak Kita karena sulit pasokan, namun ketersediaan minyak premium disebutnya masih stabil.

Sementara ketersediaan beras relatif aman. Hal ini didukung upaya PD Pasar yang turut menjual beras medium dengan harga sesuai HET, yakni Rp.9.950 per kilogram yang dikemas dalam kantong 5 kg.

Meski harga di pedagang pasar masih ditemukan untuk yang eceran, harga beras medium Rp.13.000 dan yang premium 14.000-15.000 per kilogram.

Terkait dengan adanya kelangkaan Minyak Kita di pasar tradisional tersebut, Ridho akan melakukan pendalaman lebih lanjut di tingkat distributor dan produsen.

Kondisi ini dapat disinyalir sebagai indikasi awal terjadinya kartel apabila ditemukan adanya kesengajaan dari pelaku usaha untuk mengurangi produksi atau menahan pasokan.

“Perilaku tidak sehat yang mungkin akan muncul dalam kondisi saat ini adalah distributor menjual produk Minyak Kita dengan sistem paket atau bundling,” sebut Ridho.

Sejauh ini, katanya di Medan belum ditemukan adanya perilaku distributor yang mem-bundling produk Minyak Kita dengan produk lainnya.

Minyak Kita itu, tambah Ridho diproduksi oleh produsen-produsen yang juga memproduksi minyak premium.

“Namun yang kita temui, minyak premiumnya ada, sedangkan Minyak Kita langka.Bisa saja mereka sengaja membatasi produksi Minyak Kita sehingga konsumen beralih ke premium. Tapi jika hambatannya ada di pola distribusi atau angkutan distribusinya, tentunya kami bersama tim TPID akan mengoptimalkan pendistribusiannya,” tegasnya.

Sedangkan untuk komoditi beras, Ridho mengungkapkan  KPPU Kanwil I akan menindaklanjuti informasi pasar ini dengan melakukan pengecekan pasokan dan harga di tingkat distributor dan penggilingan beras.

Pasalnya mengingat pada rantai pasok beras, posisi pelaku usaha tersebut memiliki kekuatan pasar dalam menentukan harga beras.

”Beras kita pantau terus. Saat ini harga relatif masih tinggi meskipun Bulog sudah mulai melakukan penyaluran beras. Bisa jadi karena pedagang masih mengambil dari distributor dengan harga lama. Kita lihat satu minggu ke depan apakah harga berangsur turun” ujarnya.

Terkait kelangkaan Minyak Kita dan kenaikan harga beras, Ridho mewanti-wanti kepada pelaku usaha untuk tidak memanfaatkan situasi kenaikan harga ini untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. ( swisma)